Jumat, 14 September 2012

STERILISASI DAN DESINFEKSI

1.    Beberapa Pengertian menurut Indan Endjang (2003: 40)
a.    Steril (Suci Hama) artinya bebas dari segala mikroba baik pathogen maupun tidak. Tindakan untuk membuat suatu benda menjadi steril disebut sterilisasi.
b.    Desinfektan adalah zat kimia yang digunakan untuk membunuh mikroba pathogen pada benda-benda, misalnya pada lantai ruangan, meja operasi, dan sebagainya. Tindakannya disebut desinfeksi.
c.    Sanitasi berhubungan erat dengan disinfeksi. Pada proses sanitasi, populasi mikroorganisme direduksi sampai mencapai level atau tingkatan yang dianggap aman oleh standar kesehatan masyarakat. Agen sanitasi disebut sanitizer. Contoh sanitizer yang digunakan adalah sanitizer untuk membersihkan peralatan makan di restoran.
d.    Zat antiseptik adalah zat kimia yang digunakan untuk membunuh mikroba pathogen yang terdapat pada jaringan tubuh untuk mencegah terjadinya sepsis atau infeksi.
e.    Germicida adalah suatu zat yang dapat membunuh mikroba (germ = kuman)
    Zat yang dapat membunuh bakteri adalah baktericida. Zat yang dapat membunuh jamur disebut fungicida. Bakteriostatika adalah zat yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri. Zat yang dapat membunuh virus disebut virucida.

2.    Metode Sterilisasi
    Metode sterilisasi dibagi menjadi dua, yaitu metode fisik dan metode kimia. Metode sterilisasi kimia dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan kimia, sedangkan metode sterilisasi fisik dapat dilakukan dengan cara panas baik panas kering maupun panas basah, radiasi, dan filtrasi.
a.    Metode Sterilisasi Fisik
1)    Sterilisasi panas
        Metode sterilisasi panas merupakan metode yang paling dapat dipercaya dan banyak digunakan. Metode sterilisasi ini digunakan untuk bahan yang tahan panas. Metode sterilisasi panas tanpa kelembaban (tanpa penggunaan uap air) disebut metode sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering.
        Umumnya untuk bahan yang sensitif terhadap kelembaban digunakan metode sterilisasi panas kering pada temperatur 160-180oC, sedangkan untuk bahan yang resisten kelembaban digunakan metode sterilisasi panas basah pada temperatur 115-134oC.
            Macam-macam cara sterilisasi dengan pemanasan
a)    Pemanasan dengan Nyala Api
            Di laboratorium mikrobiologi cara ini dipakai untuk membuat steril jarum inokulasi, pipet dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-sehari, misalnya membakar peniti sebelum dipakai mengeluarkan duri atau nanah. Cara ini juga dapat digunakan untuk mensterilkan  pisau operasi dalam keadaan darurat.



b)    Pemanasan dengan Udara Panas  (Dry Heat Oven)/Panas Kering
        Cara ini dipakai untuk membuat steril alat-alat dari gelas seperti tabung reaksi, petridish, botol dan alat-alat dari katun. Dengan cara ini pemanasan dilakukan sampai suhu 170oC selama 1 jam atau 140oC selama dua jam. Bila ada bahan dari katun, suhu jangan lebih dari 180oC karena akan terbakar. Juga pada pendinginannya, bila suhu belum mencapai 100oC, oven jangan dibuka dulu sebab alat-alat dari gelas akan pecah karena pendinginan yang mendadak (Indan Endjang, 2003: 43).
    Kelebihan menggunakan sterilisasi ini diantaranya, hasil kering  dapat digunakan untuk bahan termostabil, seperti alat-alat gelas dan mudah dilaksanakan. Kekurangan: waktu yang dihabiskan cukup lama, penetrasi panas terbatas pada lapisan tertentu, dan dibutuhkan tenaga listrik besar.
c)    Merendam dalam Air Mendidih (Menggodok)
    Merendam  dalam air mendidih (menggodok) adalah cara yang mudah, murah, dan cukup efektif sebagai tindakan desinfeksi.
    Air mendidih pada tekanan 1 atmosfer, suhunya 100oC dengan menggodok bentuk vegetatif akan mati dalam waktu 5-15 menit sedangkan bentuk spora akan mati dalam waktu 1-6 jam. Cara ini bayak digunakan untuk membuat steril jarum dan pompa suntik atau alat-alat operasi asalkan dipastikan bahwa alat-alat tersebut tidak berhubungan dengan sumber-sumber spora seperti debu tanah. Lama penggodokan dengan cara ini adalah 15-30 menit dan akan lebih baik ditambahkan 1-3% Na2CO3 karena mempunyai daya untuk menghancurkan dinding spora. Dengan cara ini, mungkin masih terdapat spora. Dalam kehidupan sehari-hari dipakai untuk desinfeksi botol susu dan dot bayi.
d)    Sterilisasi dengan Uap Air yang Ditekan/ Sterilisasi Panas Basah (Uap)
    Proses sterilisasi termal meggunakan uap jenuh di bawah tekanan berlangsung di suatu bejana yang disebut autoclave. Metode yang paling sering digunakan. Suhu 1210C selama 15-20 menit tergantung bahan/prosedur sterilisasi. Prinsip: Udara di dalam bejana diganti dengan uap jenuh.
    Fase Siklus Sterilisasi
    – Pemanasan/Vakum (Conditioning)
    – Fase Pemaparan Uap (Exposure)
        132°C 2’
        121°C 12’
        116°C 30’
    – Pembuangan Uap (Exhaust)
    – Fase Pengeringan (Drying)
        Metode ini paling banyak digunakan karena hampir 80% alat dan bahan dapat disterilkan dengan metode ini, seperti karet. Biaya operasional cukup rendah dibanding metode lain. Temperatur merata pada setiap tempat selama proses. Cepat dan hasil kering (Indan Endjang, 2003: 44).
e)    Pemanasan dengan Uap yang Mengalir
        Prinsipnya sama dengan dandang untuk menanak nasi. Cara ini pertama kali dilakukan oleh Robert Kock suhu uap air pada tekanan barometer 76 cm Hg adalah 100o C. Dengan cara ini hanya membunuh bakteri bentuk vegetatif. Di laboratorium cara ini dipakai untuk mematikan mikroba pathogen, sebelum alat-alat tersebut dicuci agar tidak membahayakan. Lamanya pemanasan adalah 1 jam, sedangkan membunuh bentuk spora perlu waktu 2-16 jam (Indan Endjang, 2003: 44).
f)    Cara sterilisasi Benda-benda yang Tidak Tahan Suhu Tinggi
(1)     Pasteurisasi
Dengan pasteurisasi  tidak membuat steril, tetapi hanya membunuh mikroba tertentu saja. Pasteurisasi dilakukan terhadap air susu juga pada pembuatan anggur. Suhu yang diberikan bergantung pada mikroba yang akan dibunuhnya.


(2)     Tyndalisasi
    Dengan pasteurisasi kita membuat steril suatu benda secara fraksi (sebagian-sebagian). Cara ini dilakukan untuk membuat steril benda-benda yang tidak tahan suhu lebih dari 100oC.
Caranya:
    Hari pertama, benda yang akan disterilkan dipanaskan dengan uap air yang mengalir dengan 100oC selama 30 menit. Kemudian, dimasukkan inkubator (lemari pengeram) selama 24 jam.
        Hari kedua, pemanasan dan pengeraman diulang lagi. Hari ketiga diulangi untuk ketiga kalinya dan sterilisasi dianggap selesai (Indan Endjang, 2003: 46).
2)    Sterilisasi dengan Penyaringan (filtrasi)
        Metode sterilisasi dengan pengeringan digunakan untuk bahan yang sensitif terhadap panas misalnya enzim. Pada proses ini digunakan membran filter yang terbuat dari selulosa asetat. Kerugian prosedur ini adalah biaya yang mahal serta filter yang mudah mampat akibat filtrat tertinggal pada saringan sehingga harus sering diganti. Kerugian yang lain adalah meskipun memiliki pori-pori yang halus, membram filter tidak dapat digunakan untuk menyaring virus. Jenis filter yang sering digunakan adalah filter HEPA (High Efficiency  Particulate Air) (Sylvia T. Pratiwi, 2008: 140).
3)     Dengan Pengeringan
        Pengeringan akan menyebabkan larutan di sekeliling mikroba menjadi hipertonis, sehingga air keluar dari sel mikroba dan mikroba mati. Gangguan tekanan osmotik ini akan diperhebat bila ditambahkan garam dan bumbu-bumbu, seperti halnya pada pembuatan ikan asin atau dendeng. Cara ini bukanlah tindakan sterilisasi, melainkan pengawetan, karena dengan pengeringan ini hanya menyebabkan berhentinya pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba (Indan Endjang, 2003: 47).
4)    Sterilisasi dengan Radiasi
        Metode sterilisasi dengan menggunakan radiasi dilakukan dengan menggunakan sinar UV ataupun dengan metode ionisasi. Sinar UV dengan panjang gelomabang 260 nm memiliki daya penetrasi yang rendah sehingga tidak mematikan mikroorganisme namun dapat mempenetrasi gelas, air, dan substansi lainnya. Sinar UV ini bereaksi dengan asam nukleat sel mikroorganisme dan menyebabkan ikatan antara molekul-molekul timin yang bersebelahan dan menyebabkan terbentuknya diimer timin. Dimer timin dapat menghalangi replikasi DNA normal dengan menutup jalan enzim replikasi. Penggunaan sterilisasi dengan sinar UV antara lain untuk sterilisasi kabinet dan ruangan. Endospora bakteri resisten terhadap sinar UV. Metode sterilisasi dengan ionisasi sebesar 2,5 Mrad dapat mempenetrasi jauh ke dalam objek. Penggunaan teknik ini, misalnya dengan radiasi gamma dari kobalt-60, lebih kuat daya tembusnya dibandingkan dengan cahaya UV dan tidak dilakukan dalam laboratorium. Metode sterilisasi ini ditujukan untuk merusak asam nukleat mikroorganisme dan digunakan untuk bahan-bahan yang tidak dapat disterilisasi menggunakan panas, contohnya bahan plastik sekali pakai (disposable plasticware), antibiotik, hormon, dan jarum suntik (syrnge) (Sylvia T. Pratiwi, 2008: 140-141).
5)    Pendinginan
    Suhu rendah menyebabkan pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba terhenti. Cara ini dipakai untuk mengawetkan bahan makanan yang mudah membusuk, misalnya daging, karena pada suhu rendah ini, bahan makanan itu tidak akan dirombaknya. Pada suhu -20oC (minus dua puluh derajat Celcius) (suhu lemari pendingin pada umumnya) mikroba tidak bisa merombak makanan sehingga tidak terjadi pembusukan. Beberapa bakteri mati pada suhu 0oC misalnya Neisseria gonorrhoea, Treponema pallida (Indan Endjang, 2003: 41-42).



b.    Metode Sterilisasi Kimia
Metode sterilisasi kimia dilakukan untuk bahan-bahan rusak bila disterilkan pada suhu tinggi (misalnya bahan-bahan dari plastik). Kekuatan agen antimikroba kimiawi diklasifikasikan atas dasar efisiensinya dalam membunuh mikroorganisme. Seluruh gremisida diklasifikasikan sebagai kategori tingkat tinggi karena efektif terhadap seluruh bentuk kehidupan termasuk endospora bakteri (Sylvia T. Pratiwi, 2008:  141-142).
Metode sterilisasi kimia dapat dilakukan dengan  menggunakan gas (dengan cara fumigasi atau pengasapan) atau radiasi. Beberapa bahan kimia yang dapat digunakan untuk sterilisasi gas adalah etilen oksida, gas formaldehid, asam parasetat, dan glurtaradehid  alkalin. Sterilisasi kimia dapat juga dilakukan dengan penggunaan cairan desinfektan berupa senyawa aldehid, hipoklorit, fenolik, alkohol (Sylvia T. Pratiwi, 2008: 142).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar